Tak Lulus UN, Kejar Paket C Jadi Pilihan

Tidak lulus Ujian Nasional (UN) bukan akhir dari segalanya untuk berhenti melanjutkan pendidikan. Berbagai program pemerintah seperti kelompok belajar paket C bisa menjadi pilihan.

Misalnya seperti yang terlihat di wilayah Mandailing Natal, Sumatera Utara, pascapengumuman kelulusan tingkat SMA. Pada Kamis (31/5/2012), sanggar Kelompok Belajar (SKB) cenderung lebih ramai dari biasanya. Banyak siswa yang tak lulus UN meneruskan pendidikan di sini demi memperoleh ijazah setingkat SMA.

Selain mereka yang tak lulus UN, di sanggar belajar ini juga terdapat siswa yang putus sekolah atau terpaksa dikeluarkan dari sekolahnya akibat berkelakuan kurang baik. Kegiatan belajar di SKB ini berlangsung sama seperti belajar di bangku sekolah. Nmaun, para pengajar lebih memprioritaskan siswanya belajar memecahkan soal yang diujikan pada UN lalu.

Singkatnya masa belajar, yakni hanya dua bulan, diyakini menjadi penarik minat siswa mengikuti kelompok belajar paket C ketimbang harus mengulang belajar satu tahun lagi di sekolah karena tidak lulus UN. Bagi siswa sendiri, menerima ijazah Paket C sama saja dengan ijazah SMA karena ijazah tersebut tetap bisa mereka gunakan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Tidak hanya itu, di sanggar kelompok belajar ini, tak sepeser pun biaya yang harus dikeluarkan setiap siswa. Bahkan, untuk keperluan belajar mulai dari tas, buku tulis, hingga alat tulis semuanya disediakan gratis.

Ketua SKB Mandailing Natal Suandi Batubara mengatakan, kelompok belajar ini didirikan untuk menyukseskan program pemerintah untuk menuntaskan pendidikan 12 tahun atau selesai hingga tingkat SMA. "Meski begitu, masih banyak siswa yang merasa minder menuntut ilmu di kelompok belajar ini, sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikann
::Selengkapnya

Pengumuman Hasil Ujian Nasional 2011/2012

Berdasarkan hasil rapat verifikasi dewan guru SMK BINA NUSA SLAWI menyatakan bahwa LULUS 100%

mudah-mudahan dengan hasil yang telah dicapai oleh siswa-siswi SMK BINA NUSA SLAWI untuk bisa mengembangkan lagi di dunia kerja mereka yang nati akan mereka hadapi lagi dalam waktu dekat ini.



salam satu hati buat semua siswa-siswi SMK BINA NUSA SLAWI.
::Selengkapnya

Pelajar Indonesia Peroleh 11 Medali Olimpiade Sains di Belanda

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menerima 12 siswa SMP dan SMA yang menjadi peserta International Conference of Young Scientist (ICYS) ke-19 di Belanda. Dari 12 siswa yang menjadi peserta ICYS tersebut, sebanyak 11 siswa mendapatkan penghargaan. Penghargaan yang diperoleh adalah satu medali emas (bidang IPA), dua medali perak (terapan fisika dan ekologi), empat medali perunggu (dua medali di bidang ekologi, dua medali di bidang IPA), dan empat penghargaan khusus (satu medali di bidang matematika, tiga medali di bidang ilmu komputer). Pertemuan berlangsung pada Jumat siang di Gedung A Kemdikbud, Jakarta, (4/5).

Ke-12 siswa mengikuti International Conference of Young Scientist (ICYS) ke-19 pada 16-23 April 2012 di Nijmegen, Belanda. ICYS ini merupakan keikutsertaan Indonesia yang ke-7. Sebelum memasuki seleksi nasional, para peserta diseleksi secara regional. Seleksi reginal saat ini baru mencakup daerah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan Papua, dan dilakukan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Untuk ke depan, akan diperluas

Di hadapan Mendikbud M. Nuh, para siswa memberikan penjelasan singkat mengenai penelitiannya. Saat mendengarkan uraian singkat mereka, Mendikbud juga melakukan tanya-jawab terkait penelitian dan cita-cita mereka. Menteri Nuh pun bangga dan memberikan apresiasi terhadap penelitian-penelitian para siswa. "Bagus, menarik," pujinya.

Salah satu penelitian yang menarik adalah penelitian Mike Juneth Christin Toan dari SMAN 3 Jayapura, yang meneliti ulat sagu sebagai alternatif sumber protein tinggi. Christin mengatakan, ulat sagu biasa dikonsumsi secara mentah oleh masyarakat Papua. Karena itu ia mencoba membuat makanan olahan dari ulat sagu, misalnya dengan membuat bakso ulat sagu.

Menteri Nuh mengatakan, prestasi ini merupakan kebanggaan bagi Indonesia, bukti kesuksesan generasi muda bangsa. “Adik-adik sekalian ini generasi emas. Dua puluh tahun lagi akan jadi peneliti yang luar biasa. Usia 12 tahun saja sudah jadi peneliti kelas dunia,” ujarnya. Para peserta ICYS, harap Menteri Nuh, harus berani mengapakkan sayap di bidang masing-masing untuk menjadi bagian dari dunia. Selain itu, Mendikbud M. Nuh juga memberikan apresiasi kepada Surya Institute dan Garuda Indonesia yang memberikan bimbingan dan bantuan dalam mengirimkan siswa-siswa peserta ICYS ke Belanda. “Kami menyambut baik kerja sama berupa penanaman investasi di bidang SDM,” katanya. (DM)
::Selengkapnya